Saya tulis artikel ini, sebagaimana saya
mendapati beberapa orang telah salah kaprah dalam mengartikan kata “PERAWAN”
yang sesungguhnya.
Mungkin benar, setiap orang memiliki pandangan dan pendapat
yang berbeda-beda. Namun apa salahnya jika saya juga melontarkan pendapat yang
sekiranya dapat membenarkan pemikiran maupun pendapat yang kurang tepat. Pada dasarnya, keperawanan dengan keutuhan selaput dara memang tidak harus selalu
berkaitan. Ketidakutuhan selaput dara tidak hanya dikarenakan hubungan badan
saja, tetapi bisa dikarenakan kecelakanaan,
terjatuh, gerakan fisik yang berlebihan seperti olah raga, berkuda, bersepeda
dan sebagainya yang menyebabkan selaput dara tersebut robek tanpa disengaja.
Dalam ilmu Biologi, secara fisik,
seorang perawan biasanya ditandai dengan utuhnya selaput dara yang berada pada
daerah vagina. Dan hilangnya keperawanan biasanya disertai dengan keluarnya
darah dari daerah vagina (tergantung bentuk dan ketebalan selaput dara) saat
mengadakan hubungan seksual pertama kali.
Sedangkan secara istilah Islami...keperawanan bukan sekadar masih utuhnya selaput
dara di vagina, melainkan setiap wanita yang belum pernah melakukan
aktivitas-aktivitas seksual atau belum pernah melakukan hubungan seksual /
sanggama dengan seorang pria.Secara umum, perawan juga direlasikan
dengan kesucian. Kesucian dan kehormatan perempuan bagi manusia yang memahami
makna kehormatan bukan sebatas berpedoman dengan selaput dara, melainkan
perempuan yang tidak pernah ternodai setitik zina. Keperawanan merupakan hal yang sangat
penting bagi perempuan karena disitulah letak kesucian akhlak dan kesempurnaan
iman.
Namun demikian, mari lihatlah bagaimana kenyataan hari ini di mana tidak
sedikit perempuan yang menggumbar auratnya yang berharga. Pakaian yang semestinya
dipakai anak usia lima tahun semakin digandrungi oleh gadis remaja dan lucunya
ibu-ibu pun beramai-ramai mengenakan hal serupa. Bahkan yang paling mengkhawatirkan,
tidak sedikit para wanita menyerahkan kepada laki-laki yang bukan suaminya.
Mereka tidak akan lagi merasa malu ketika selaput daranya sudah terkoyak
sebelum waktunya. Apalagi saat ini telah beredar selaput dara palsu, tentunya
mereka akan dengan mudah mengganti dan mengelabui siapapun. Apalagi dengan obat
pencegah kehamilan yang kian marak dijual dimasyarakat, sungguh akan
memepermudah jalan menuju kemaksiatan.Perempuan adalah makhluk istimewa.
Allah SWT telah menciptakan wanita dengan selaput dara yang dimilikinya
tidaklah bernilai cuma-cuma dan percuma.
Keberadaanya adalah bukti keseriusan
wanita dalam menjaga dan memelihara kesucian iman dan kegadisan. Organ itu juga
menjadi saksi bahwa dirinya tidak pernah melakukan hubungan seksual sebelum
menikah sebagaimana telah menjadi hukum Allah.Namun ketika hal itu terkoyak sebelum
waktunya (kecuali alasan pemerkosaan, atau kecelakaan) patut kita pertanyakan
dimana rasa malu yang merupakan cerminan perempuan. Di manakah keimanan yang
akan membuat akhlaknya semakin menawan dan dimanakah harga dirinya sebagai
manusia yang diistimewakan. Maka wajarlah jika terdapat perempuan yang tidak
menjaga harga diri dan keperawanannya dianggap tidak punya iman.Kesimpulannya: Keperawanan bukan dilihat
dari utuhnya selaput dara pada wanita, namun dinilai dari apakah wanita
tersebut sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan seorang pria atau
belum?
Jadi, bagi para pria yang mendapati
istrinya kelak tidak mengeluarkan darah perawan saat malam pertama, janganlah
negthink/berprasangka buruk terlebih dahulu. Bisa saja selaput dara milik
wanita tersebut masih tebal atau memang sudah robek karna suatu alasan tertentu
(kecelakaan).Karna seperti yang saya jelaskan di awal
tadi, ketidakutuhan selaput dara tidak hanya dikarenakan hubungan badan saja,
tetapi bisa dikarenakan kecelakanaan, terjatuh, gerakan fisik yang berlebihan
seperti olah raga, berkuda, bersepeda dan sebagainya yang menyebabkan selaput
dara tersebut robek tanpa disengaja.
*NB: Saya minta maaf bila dalam
artikel ini terdapat kata yang salah. Jika iya, mohon komentar, agar saya dapat
memperbaikinya. Trim’s..
0 komentar:
Posting Komentar