Malam ini.. malam yang kesekian kalinya aku menemanimu diantara kerlip bintang dilangit. Rasanya masih sama seperti hari-hari yang lalu. Senang, nyaman dan tenang. Apa itu juga yang kamu rasakan ?

Tatapan matamu selalu terasa menyentuh hatiku. Bagaimana tidak, sinar ketulusan terpancar dari bola matamu. Seakan ku tak kuasa tuk menatapnya. Kau selalu mengatakan hal yang membuatku melayang. Namun nyatanya hal itu justru membuatku jatuh terlalu dalam. Kau bilang, kau menyayangiku. Dan aku hanya bisa diam. Bukan berarti aku tak mau menjawabnya. Aku hanya ingin apa yang aku rasakan, bahkan lebih dari apa yang kau rasakan, hanya aku dan Tuhan yang tau. Aku mencintaimu.

Mungkin bagi orang lain, aku terlalu bodoh bertahan dalam harapan tanpa kepastian. Bertahan bukan berarti aku percaya akhir yang indah berpihak kepadaku. Hanya saja, aku ingin berlayar dahulu, sebelum akhirnya aku berhenti dan singgah di salah satu tempat yang tepat untukku.

Kau hanya membutuhkan aku sekedar, bukan sepenuhnya. Sedangkan aku, sepenuhnya membutuhkanmu. Aku selalu sadar, aku bukan siapa-siapa bagimu. Bukanlah princes dengan gaun indah, layaknya cinderella yang duduk dikursi singgah sana hatimu. Karna kursi itu tidaklah kosong. Melainkan sudah ada yang menempati.

Apakah aku berdosa t’lah berani mencintaimu ? lebih tepatnya berdosa mencintai kekasih orang lain ? Sedangkan perasaan ini tentu tidaklah salah, hanya kurang tepat penempatannya. Yang salah adalah saat aku berani berada disampingmu, sedang kau adalah milik orang lain. “Ya Allah.. aku percaya Kau punya rencana baik untukku. Setiap harapan selalu ada kepastian. Meski kepastian itu belum tentu seperti apa yang aku inginkan. Tapi itulah yang terbaik untukku.” Aku tak ingin menyakiti kekasihmu. Dia wanita yang terlalu baik untuk disakiti. Begitupun dengan mu, aku tak ingin kau tersakiti. Dan yang lebih sakit lagi yaitu aku. Dengan kenyataan yang parah, bahwa kau hanyalah pangeran dalam mimpiku.

Maka biarkan aku terbang bebas tanpa harus membawa harapan yang t’lah tertanam. Bebas terbang berarti pergi. Pergi bukan berarti benar-benar meninggalkan. Namun menjadi abadi dalam lantunan DOA.



0 komentar:

Posting Komentar